Thursday, June 29, 2006

Surat untuk Kekasih : HARI INI, SEPULUH TAHUN YANG LALU

Kekasih...
Tadi pagi, saat kamu masih terlelap
Aku memandangi wajahmu
Yang masih sama seperti pagi ini,
Sepuluh tahun lalu

Dulu, hari ini...
Sejak pagi aku sudah terbangun
Berdebar menanti datangnya dirimu
Bukan, bukan sejak pagi
Tapi sejak malam hari dan berhari-hari sebelumnya

Kita mengikat janji hari ini
Kita hadirkan Tuhan di tengah persidangan
Aku lalu jadi milikmu dan kamu milikku
Kita janji akan berbagi nyawa selamanya, sepanjang sisa usia
Tapi kita bisa apa?

Ternyata memenuhi janji tak semudah mengucapkannya
Mungkin kamu sempat menyesal mengijinkanku jadi bagian hidupmu
Sama seperti aku yang menyesal tak sanggup jadi yang terbaik untukmu
Kita pernah berada di persimpangan yang menawarkan beberapa pilihan
Pilihan yang tak pernah sanggup kupilih karena buatku kebersamaan berarti kesimbangan

Kita sama-sama berdarah melewati jalan ini
Kita tak pernah sadar, kapan bunga-bunga singgasana berubah jadi duri
Perih dan luka yang kemudian menyadarkan kita
Bahwa ternyata taman bunga itu telah jadi belantara yang penuh jebakan
Dan seringkali kita seperti terperangkap di dalamnya

Kamu bukannya tidak mencintaiku
Aku juga bukan tak cinta padamu
Kita punya cinta, meski aku tak tau bagaimana rupanya sekarang
Aku harus bahagia...sebab kita memang pernah bahagia
Kita sudah lewati ratusan purnama bersama
Sambil menghitung ribuan malam yang tertinggal di belakang

Kekasih...
Hari ini, sepuluh tahun lalu
Aku ingat, aku merasa jadi putri tercantik
Gemetar menanti kamu, pangeranku menjemputku
Kita sama-sama berdebar kurasa
Kita sama-sama tak sabar mengakhiri hari untuk menjemput pelangi

Kamu sangat tampan saat itu
Entah apa aku cukup cantik untukmu
Tapi yang pasti, kita merasa sama lega saat bertemu muka
Tak ada lagi yang bisa pisahkan kita mulai pagi itu
Begitu pikirku, dengan pipi bersemu merah jambu
Sungguh, aku yakin, setelah hari itu, kamu akan selalu jadi milikku

Tapi aku terlalu lugu
Kenaifan menutup mataku bahwa langkah kita bisa saja salah
Sebab pada suatu titik, kaki mengantarkan kita ke tepi jurang
Yang nyaris merenggutmu dariku dan aku tak mau melepasmu
Seperti gerabah, hatiku pecah

Keyakinan itu luruh pelan-pelan menciptakan aku yang baru
Aku yang tak lagi percaya dongeng cinta
Aku yang tak lagi percaya keabadian cinta
Aku yang tak lagi percaya keajaiban cinta
Aku yang tak lagi percaya pada cinta

Aku mulai belajar untuk memahami cinta dari sudut berbeda
Aku selami diriku untuk dapat memahamimu
Aku telaah tiap jengkal isi kepalaku untuk menemui di mana simpul yang salah itu
Aku, jujur saja, tak mau berbagi dirimu
Tapi aku harus mencari jawaban kenapa aku tak bisa menjagamu dalam cintaku

Kekasih,
Lama sekali aku harus belajar mengenali diriku
Susah sekali menenangkan diriku yang kalap pada keadaan
Sulit sekali mengajarkan diriku untuk pasrah pada takdir
Sampai akhirnya, aku tak lagi sanggup bicara
Maka aku diam dan sibuk memulung ketegaran

Ketegaran yang akhirnya bisa menyambung nyawaku
Sedih sekali saat itu, kekasih...
Nyaris aku kehilangan pegangan
Sakit sekali saat aku harus mematikan rasaku padamu yang selalu bergolak
Tapi akhirnya aku bisa dan mulai terbiasa dengan rasa yang hambar
Aku takut, rasa yang terlalu kuat malah meracuni kita
Sebab itu yang terjadi sebelumnya
Rasaku meracunimu dan membuatmu merasa perlu mencari penawar di luar

Aku tak tahu, apakah aku akan bisa membuat rasa itu kembali berbumbu
Sebab, aku juga jadi terbiasa mencukupkan rasa dari apa yang aku bisa
Aku tak lagi terbiasa meminta rasa padamu
Dan itupun kamu anggap adalah kesalahanku
Padahal, kamu yang membuatku jadi begitu

Jadi kekasih,
Tadi pagi, saat memandangi wajahmu yang terlelap
Aku tak lagi yakin apakah rasaku masih sama kadarnya dengan sepuluh tahun lalu
Aku masih sayang kamu
Tapi aku tak tahu apakah masih ada cukup cinta untuk kupersembahkan padamu
Aku ingin memberikannya, tapi apakah aku bisa memberikan apa yang tak lagi kupunya?

Hari ini, sepuluh tahun setelah hari itu
Aku masih berdiri di sisimu, mengupayakan tegaknya rumah kita
Berdua, dengan hati yang tak kuyakini lagi bentuknya
Ah...mungkin kita bisa berdoa bersama
Untuk rasa yang lebih sempurna kelak
Pada hari ini, sepuluh tahun yang akan datang
Ya...Mungkin saja, kendati aku tak lagi terlalu percaya...